Postingan

ATAP RUMAH yang RETAK

Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah berhenti bergerak, di mana gedung-gedung tinggi berdiri angkuh menembus awan, terselip sebuah rumah papan kecil berwarna biru pudar di pinggir jalan. Cat dindingnya sudah banyak yang mengelupas, memperlihatkan serat kayu yang mulai lapuk dimakan waktu. Atap sengnya berkarat di mana-mana, bergemerisik pelan setiap kali ditiup angin, seolah ikut mengeluh menahan beban hujan dan panas selama bertahun-tahun. Kusen pintunya berdecak pelan setiap kali didorong, seolah enggan membuka diri terhadap dunia di luar sana. Halaman depannya tak rata, beralaskan tanah padat yang berdebu saat kemarau dan berlumpur saat musim hujan tiba. Namun di rumah sederhana itulah, Pak Nanto dan Bu Heni berusaha membesarkan ketiga anak mereka dengan segala keterbatasan yang ada, mencoba menanam kasih sayang setebal dinding yang rapuh itu.   Malam itu, lampu bohlam sepuluh watt bergoyang pelan tertiup angin yang menyelinap dari celah jendela. Cahayanya remang-remang, n...

PAGI

Pagi... kata yang sederhana, namun mampu menghadirkan cahaya semangat yang membara. Ia datang membawa hembusan napas baru, menyapu sisa lelah yang sempat tertinggal di sela mimpi. Pagi... sapaan lembut dari langit yang terbit, mengatakan bahwa tak ada gelap yang abadi, dan setiap detik yang baru adalah anugerah yang tak terulang. Di dalamnya tersimpan harapan yang tak pernah pudar, kekuatan yang tak pernah usai, serta janji bahwa kita sanggup melangkah lagi, dengan hati yang tenang dan tekad yang tegak berdiri. Pagi... bukan sekadar pergantian waktu, melainkan cahaya yang menyapa jiwa, membangunkan semangat yang sempat terlelap, dan mengajak kita merangkai cerita indah di atas lembaran hari yang masih putih bersih.